MAKALAH MENINGKATKAN MULTIPLE INTELLEGENSI ANAK DENGAN BERMAIN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan bagi Anak Usia Dini
memang pendidikan yang paling dasar bagi anak. Pada tahap ini orang tua harus
benar-benar memperhatikan pendidikan bagi anaknya. Baik dalam memilih lembaga
pendidikan bagi sang anak atau pun memilih untuk mendidik sendiri sang anak
dirumah. Dalam pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan
yang dimiliki oleh anak. Karena kecerdasan anatara satu anak dengan yang lain
berbeda. Orang tua maupun pendidik anak usia dini harus mengenali kecerdasan
yang dimiliki anak agar dapat mengarahkan dan mengembangkan kecerdasan yang
dimiliki anak secara maksimal. Dan dalam untuk meningkatkan kecerdasan otak
Anak, orangtua dan lingkungan sangat berperan penting untuk meningkat
kecerdasan Multiple Intellegence Anak. Untuk itu orang tua, guru harus
bisa memberikan stimulasi atau rangsangan terhadap kecerdasan otak anak dalam
meningkatkan bakat anak yanng terpendam maupun yang terlihat. Orang tua maupun
guru juga harus mengetahui gaya belajar Anak untuk bisa meningkatkan kecerdasan
otak anak.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan multiple intellegence?
2.
Apa
saja ragam kecerdasaan menurut pemikiran Gardner ?
3.
Bagaimana
cara meningkatkan kecerdasan anak dalam memberikan rangsangan otak pada anak ?
4.
Bagaimana
cara untuk meningkatankan multiple intellegence dengan bermain ?
5.
Apa
keahlian dari ragam multiple intellegence masa depan anak mendatang ?
C.
Tujuan
1.
Dapat
memahami pengertian multiple intellegence.
2.
Dapat
mengetahui berbagai ragam kecerdasan menurut pemikiran Gardner.
3.
Bisa
mengetahui untuk mencerdaskan anak dalam
memberikan rangsangan otak pada anak.
4.
Dapat
mengetahui cara meningkatkan multiple intellegence dengan bermain.
5.
Dapat
mengetahui keahlian dari multiple intellegence masa depan anak
mendatang.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Multiple Intelegences
Beberapa ahli
mendeskripsikan intelegensi sebagai keahlian dalam memecahkan masalah. Ahli
yang lain mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar
dari pengalaman sehari-hari. Dari gabungan gagasan-gagasan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa intelegensi (intellegence) adalah keahlian dalam memecahkan
masalah serta kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman
sehari-hari[1].
Robert J. Sternberg,
mengembangkan teori triarkik (tiarchic theory of intelegence) yang
menyatakan bahwa intelegensi bahwa terdiri atas tiga bentuk, diantarannya:
1.
Intelegensi
analitis, berhubungan dengan kemampuan
menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan, dan membedakan.
2.
Intelegensi
Kreatif, terdiri atas keahlian untuk
mencipatakan, merancang, menemukan, memulai, dan membayangkan.
3.
Intelegensi
Praktis, mencakup kemampuan untuk
menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan, dan mempraktikan gagasan.
Sedangkan Multiple
intelegences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang ilmu
kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk” muncul
menjadi gaya belajar. Gaya belajar adalah respons yang paling peka dalam otak
seseorang untuk menerima data atau informasi dari pemberi informasi dan
lingkungannya. Informasi akan lebih cepat diterima oleh otak apabila sesuai
dengan gaya belajar penerima informasi. Jika informasi tentang materi belajar
sudah diterima oleh otak, dapat dikatakan bahwa indikator hasil belajarnya
sudah tuntas[2].
B.
Pemikiran Gardner
Frame of Mind yang ditulis oleh Gardner
pada tahun 1983 menyampaikan ragam kecerdasan yang juga dipengaruhi oleh budaya
teempat kita dilahirkan sehingga kecerdasan tidak lagi ditafsirkan sebagai
tunggal dalam wacana kognitif. Menurut Gardner : salah besar apabila kita
mengomsumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas aturan besaran tunggal tetap, yang
bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas. Kecerdasan yang
dicetusakan Howard Gardner memperkuat perspektifnya tentang kecerdasan kognitif
manusia. Kecerdasan memiliki spektrum yang sangat luas, bahkan menembus dimensi
emonsionalitas dan spriritualisme, yang di dalamnya bersemayam kemampuan
imajinasi, kreativitas, dan problem solving.
Kecerdasan dalam definisi Gardner adalah
sebuah kebudayaan yang tercipta dan proses pembelajaran, perilaku, pola
kehidupan antar manusia, dan alam atau lingkungan yang terkristalisasi dalam
kebiasaan. Dengan demikian, kecerdasan adalah sebuah perilaku yang diulang-ulang[3].
Otak manusia kompleks dan misterius, yang di dalamnya tersimpan kepribadian dan
kecerdasan. Kecerdasan adalah anugrah Tuhan Sang Pencipta. Melalui kajian ilmiah
psikologi, Gardner yang juga ahli saraf di Universitas Hervard membuat
klasifikasi kecerdasan, berdasarkan fakta empiris. Pada tahun 1999, beliau
menghasilkan karya intelektual berjudul Intelligence Reframed yang
menyatakan bahwa otak manusia menyimpan sembilan jenis kecerdasan yang
disepakati, sedangkan yang selebihnya masih misteri. Yaitu terdiri dari, kecerdasan
linguistik, logis-matematis,spasial,kinestetis, musik,
interpersonal,intrapersonal, naturalis, eksitensialis.
Setiap
kecerdasan punya perkembangannya sendiri, tumbuh dan menjelma dalam kurun waktu
berbeda untuk setiap individu. Dinamika teori multiple intellegence Gardner
bersifat jamak : bermakna banyak dan luas, menandakan kecerdasan pada
hakikatnya tidak terbatas. Hanya karena keterbatasan manusialah yang membuatnya
terbatas menjadi tujuh, lalu berkembang lagi menjadi sembilan kecerdasan. Suatu
waktu, jenis kecerdasan lain akan bertambah.
C.
Macam-macam Kecerdasan Menurut Gardner
Berikut dibawah
ini akan menguraikan sembilan jenis kecerdasan berdasarkan pemikiran Gardner
beserta potensi yang akan anak kuasai dimasa mendatang :
1.
Kecerdasan Linguistik (Cerdas Bahasa)
a.
Pengertian Cerdas Bahasa
Definisi bahasa
menurut Jan van de Putten adalah sebagai alat lomunikasi yang terdiri dari
kata-kata dan diatur oleh suatu perangkat dan konvensi, serta diidentifikasikan
oleh suatu kelompok pengguna disuatu wilayah geografis yang merujuk kepada
penggunanya sendiri. Dengan demikian, pada dasarnnya bahasa atau ilmu bahasa (linguistik)
secara kebudayaan mewakili entitas sosial kemasyarakatan[4].
Kecerdasan ini dapat menunjukkan kecerdasan logika
berpikir seorang anak. Jika dia bisa berbahasa/berbicara dengan bagus dan
lancar niscaya logika berpikirnya akan bagus. Anak-anak cenderung lebih sering
menggunakan kata-kata yang ‘acak-acakan’.
b.
Meningkatkan
Kecerdasan Linguistik
Berikut ini beberapa metode untuk merangsang
kecerdasan berbahasa verbal, diantaranya:

(Mengajak
anak bercakap-cakap) (Membacakan Cerita Dongeng)
Pandai berbahasa bukan hanya berarti menguasai banyak
bahasa, melainkan si anak mempunyai kemampuan dalam mengolah bahasa. Hal ini
penting untuk mengajarkan bahasa ibu terlebih dahulu karena hal itu akan
mendorong logika berpikir si anak. Tidak semua anak cerdas dalam berbahasa.
Seandainya si anak belum siap menerima multibahasa. Jangan memberikannya. Bila
guru dan orangtua menjejalkan anak dengan beragam bahasa, hasilnya anak akan
mengalami kebingungan bahasa.
c.
Permainan
untuk Meningkatkan Cerdas Bahasa
Stimulus dari lingkungannya akan mempengaruhi kemampuan otak si anak dan
pada akhirnya akan bermuara pada keterampilan anak dalam mengolah kata-kata dan
berbicara. Biasanya, kurangnya kemampuan berbahasa pada anak terjadi apabila
sejak kecil anak jarang diajak berkomunikasi. Dalam meningkatkan kemampuan
berbahasa pada anak, orang tua bisa memasukkannya kedalam aktivitas drama yang
kerap digelar oleh sanggar kesenian anak.

(bermain
akting drama)
Dalam kegiatan drama tersebut anak dapat mengembangkan bakat
bahasanya dengan baik, yaitu memerankan seseorang yang akan diperankannya dalam
bermain drama tersebut.
d.
Potensi Yang Dapat Dikembangkan
Keahlian atau
potensi anak yang dimiliki untuk kecerdasan bahasa bisa dikembangkan hingga
dewasa nanti, sebagai berikut :
1)
Penulis,
2)
Jurnal,
3)
Pengacara,
dan
4)
Artis
5)
Dll.
Dalam potensi tersebut diharapkan orang tua untuk memperhatikan dan
mengembangkan bakat anaknya sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan anak yang
dimilikinya.
2.
Kecerdasan
Logis-Matematis (Cerdas Angka)
a.
Pegertian
Cerdas Angka
Biasanya logika matematika dikatikan dengan otak yang
melibatkan beberapa komponen, yakni perhitungan secara matematis, berpikir
logis, dan pemecahan masalah. Anak dengan kemampuan ini akan senang berkutat
dengan rumus-rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika,
tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analisis dan konseptual. Ada
kaitan antara logika matematika dan kecerdasan linguistik, anak menganalisis
dan menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengonstruksi solusi dari
persoalan yang timbul. Menurut Gardner, ciri anak yang cerdas matematika adalah
anak yang suka mengotak-atik benda dan
melakukan uji coba.
b.
Kegiatan
untuk Merangsang
Dalam hal ini kita dituntut untuk kreatif dalam
mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika sehingga anak menjadi fun dalam
mempelajarinya dan tidak menganggap matematika sebagai sesuatu yang menakutkan.
Dalam meningkatkan kecerdasan ini, ciptakan lingkungan matematika. Tidak harus
selalu berkutat dengan rumus-rumus serius, tapi bisa diselipkan dalam kegiatan
sehari-hari, misalnya dengan menanyakan kepada anak, lebih besar tempat bekal
si A atau si B? Atau lebih berat mana tas si A atau si B? Dengan begitu secara
tidak langsung kita telah mengajarkan kepada anak tentang konsep panjang dalam
meter atau berat dalam gram. Beberapa cara membantu anak mengembangkan
kecerdasan matematika:
1)
Perbanyak koleksi buku-buku
referensi mengenai konsep matematika.
2)
Buat permainan seru dengan
melibatkan murid-murid dalam lomba-lomba, seperti berhitung dan permainan asyik
lainnya.
3)
Manfaatkan berbagai benda yang ada
di sekitar kita sebagai media pengajaran.
Sedangkan untuk
anak usia dini atau TK orang tua dapat mengajarkan anak untuk belajar
menghitung, dan mengajarkan bangun ruang atau datar dan lingkaran, mintalah
anak untuk mengamati pola dari beberapa bendera negara dari buku-buku, bentuk
atap rumah dan sebagainya.
c.
Jenis
Permainan untuk Cerdas Matematic
Beberapa jenis cara membantu anak mengembangkan
kecerdasan dalam bermain. Berikut contoh permainannya :

(Ular Tangga)
(Pemainan Edukatif-Balok)
Kemampuan ini
bisa diasah lewat permainan yang menggunakan angka-angka, misalnya bermain.
Untuk merangsang serta mengoptimalkan kecerdasan logis-matematis, anda harus
mengondisikan otak anak agar siap menerima materi dengan situasi dan cara
pembelajaran yang menyenangkan.
d.
Potensi Yang
Dapat Dikembangkan
Keahlian ini bisa dikembangkan hingga dewasa yaitu
bisa menjadi ilmuan, insyiyur, akuntan[5]. Kecerdasan logis-matematis
melibatkan banyak komponen: perhitungan secara matematis, berfikir logis,
nalar, pemecahan masalah, pertimbnagan
deduktif, dan ketajaman hubungan antara pola-pola numerik. Kecerdasan
logis-matematis menurut Gardner bukanlah kebutuhahan yang superior dibandingkan
dengan kecerdasan-kecerdasan lain. Kecerdasan pada dasarnnya sama dan tidak
saling mengalahkan atas yang lainnya. Setiap kecerdasan mempunyai mekanisme
sendiri serta setiap kecerdasan mempunyai prinsip inti tersendiri[6].
3.
Kecerdasan
Spasial-Visual (Cerdas Ruang dan Gambar)
a.
Pengertian
Cerdas Spasial-Visual
Kecerdasan spasial umumnya dimiliki para pelukis,
pemahat, arsitek, dan pilot. Anak dengan kecerdasan spasial-visual adalah
pengamat dunia. Mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara
menyeluruh. Anak dengan tipe kecerdasan seperti ini biasanya menyukai pelajaran
yang dikemas dalam metode diagram, grafik, tabel, dan mind mapping.
Lalu cara untuk mengembangkan kecerdasan
spasial-visual anak bisa dilakukan dengan :
1)
Bermain puzzle dan balok
2)
Belajar bentuk
3)
Belajar mengamati

Selain itu,
untuk merangsang kecerdasan spasial anak, kita juga bisa mencoba dan merancang permainan berburu harta karun dengan
menggunakan peta sederhana. Anak dengan kecerdasan spasial, biasanya lebih
mudah memahami peta. Sekarang ini banyak permainan ‘mencari jalan’ yang adala
dalam majalah-majalah untuk anak TK disertai dengan cerita dan gambar yang
menarik.
b.
Potensi Kecerdasan
Spasial-Visual
Keahlian yang berhubungan dengan
operasi matematis bisa menjadikan anak menjadi arsitek, pilot, fotografi dan
lain sebagainya[7].
Dalam kecerdasan Spasial-Visual, mereka peka terhadap tanda-tanda
alam dan mengamatinya secara menyeluruh.
4.
Kecerdasan
Kinestetik (Cerdas Olah Tubuh-Jasmani)
a.
Pengertian
Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan gerak merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide
dan perasaan dalam gerakan tubuh. Kecerdasan ini dimiliki orang-orang yang
menggunakan koordinasi tubuhnya dan mampu mengontrol gerakan-gerakannya itu,
seperti para atlet dan penari. Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut body
smart. Umumnya, anak cerdas gerak memiliki kematangan motorik, baik motorik
kasar, seperti berlari, menangkap, melempar, dan memanjat tebing, maupun
motorik halus, seperti menulis, menggunting, dan menempel. Kedua tipe gerakan
ini membutuhkan koordinasi visual-motorik, ketepatan, keseimbangan, dan
kelenturan.
b.
Kegiatan
Merangsang Kecerdasan Kinestetik
Menurut Gardner, seseorang yang punya kemampuan menggunakan seluruh tubuh
mereka atau paling tidak hanya sebagian dari tubuh, seperti tangan untuk
memecahkan masalah merupakan pengembangan dari kecerdasan kinestetik[8].
Ada tiga pusat kemampuan kognitif dalam kecerdasan kinestetik/gerak yang
merupakan komponen penting dari gerak tubuh, yakni:
1)
Logika motorik merupakan kemampuan saraf otot untuk bergerak
2)
Memori kinestetik merupakan kemampuan anak mengatur batas dari
gerakan melalui konstruksi otot, gerakan dan posisi dalam ruang
3)
Kesadaran kinestetik merupakan
kemampuan indra gerak anak untuk mengikuti perintah dan petunjuk.
Pendidik
dapat membantu orangtua menemukan dan mengembangkan kecerdasan gerak anak sejak
dini. Kecerdasan ini dapat diamati saat anak mulai melakukan gerak bertujuan,
misalnya berjalan, melompat, memanjat, atau berlari. Bila anak terlihat mampu
melakukan gerakan dengan sangat terampil dibandingkan dengan anak seusianya,
berarti ada kemungkinan dia memiliki kelebihan dalam kecerdasan gerak. Melalui
aktivitas olahraga atau seni, seperti menyanyi atau menari, anak dapat teramati
kemampuan geraknya[9].
Kecerdasan
gerak tidak sekedar melibatkan gerakan saja, tapi juga melibatkan kemampuan
berpikir. Misalnya, meniru gerakan tarian atau menendang bola ke arah gawang.
Pada usia 3 tahun, biasanya anak mulai menunjukkan ciri-ciri keunggulan dalam
kecerdasan kinestetik. Kesiapan motoriknya sudah berkembang mendekati sempurna.
Sejalan dengan kesiapan fisiknya, anak juga mulai berkembang dalam kemampuan
berpikirnya. Anak mulai mampu meniru dan menghafal gerakan sehingga ketika si
anak diminta mengulang kembali gerakan tertentu, dia mampu melakukannya dengan
baik.
c.
Jenis
Permainan
Beberapa permainan yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi anak
yang tergolong cerdas gerak, antara lain:
1)
Menyediakan ruang yang cukup luas
agar anak bisa menyentuh apapun yang mereka lihat. Ajak anak ke tempat-tempat
yang memicu eksplorasinya dalam menyentuh.
2)
Memberikan anak ruang yang cukup
untuk bergerak sehingga anak cerdas gerak berlajar berinteraksi dengan ruang di
sekitarnya.
3)
Minta anak untuk berpartisipasi
dalam aktivitas yang berorientasi pada gerakan, seperti pementasan drama dan
menari dalam kegiatan sekolah, senam, balet, dan olahraga. Beberapa aktivitas
menawarkan anak belajar melalui interaksi spasial dan gerakan tubuh yang
bermanfaat untuk membangun kepercayaan dirinya.
4)
Melakukan beberapa kegiatan yang
menunjang kemampuan gerak motorik anak, seperti memasukkan manik-manik ke
benang, menggunting kertas, dan kegiatan kerajinan tangan lainnya.
5)
Bermain petak umpet,
kucing-kucingan, lompat tali, dan sebagainya.
Berikut
ilustrasi gambar yang bisa untuk meningkatkan motorik kasar pada Anak :


(berlari-larian) (bermain petak umpet)

(sepak bola) (lompat
tali)
d.
Potensi Masa
Depan
Banyak orangtua yang kemudian mengarahkan anaknya untuk mengikut les-les
yang bisa mengembangkan kecerdasan gerak anaknya, seperti les menari, renang
dan sebagainya. Keahlian yang
berhubungan dengan kecerdasan kinestetik bisa menjadikan anak menjadi perajin,
penari, atlet, dan petualang[10].
5.
Kecerdasan Music (Cerdas Musik)
a.
Pengertian
Kecerdasan bermusik mencakup kepekaan atau penguasaan terhadap nada, irama,
pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik sehingga seseorang mampu
menyanyikan lagu, memainkan musik, dan menikmati musik. Imitasi dan eksplorasi
terhadap berbagai bunyi, gambar, dan gerakan, selayaknya menjadi bagian dari
pengalaman anak sehari-hari. Musik tidak hanya berkaitan dengan perkembangan
kognitif, tapi juga mampu mengembangkan kecakapan sikap, tingkah laku, dan
disiplin anak. Melalui musik, rasa percaya diri anak meningkat, yang kemudian
menular ke bidang lainnya, seperti matematika, geografi, ekonomi dan sebagainya[11].
b.
Mengembangkan Kecerdasan musik
Kenali bakat musik anak didik anda lewat alat-alat musik yang mereka
mainkan dan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Pengenalan musik terhadap anak di
sekolah bisa dilakukan dengan cara membuat permainan-permainan menciptakan
musik, misalnya dengan alat-alat makan (piring, sendok, atau gelas). Hal ini
dapat membantunya mempelajari irama, lemah-kuatnya nada, dan tinggi-rendahnya
bunyi.
c.
Kegiatan
Kecerdasan Musik
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah untuk menggali kecerdasan
musik anak didi antara lain:
1)
Kenalkan anak lewat berbagai jenis alat
musik meskipun hanya lewat gambar.
2)
Menyediakan alat-alat musik
sederhana, misalnya gitar, drum, piano, tamborin mainan (dari plastik) dan
sebagainya.
3)
Mengajarkan not balok lewat
lagu-lagu sederhana.
4)
Untuk melatih kepekaan nada, anak
juga dapat diperdengarkan lagu-lagu dengan irama yang berbeda saat dia makan,
menggambar, bermain, dan dalam melakukan aktivitas lainnya.
5)
Anak-anak cenderung menyukai lagu
yang bernada riang. Bernyanyi bisa dikombinasikan dengan kegiatan bermain
lainnya, seperti permainan kursi putar.
6)
Ajaklah anak untuk menampilkan
kebolehan mereka dalam acara-acara sekolah.
d.
Permainan Kecerdasan Musik
Dalam mengembangkan kecerdasan
tersebut dorang tua dapat mengembangkannya dengan melakukan jenis permainan
dengan bermain alat musik sebagai cara merangsang kecerdasan musik tersebut. Jadi untuk
kecerdasan ini orangtua bisa mengenalkan anak dengan berbagai macam jenis alat
musik dan nyanyian yang sesuai dengan seumurannya.
Berikut beberapa jenis permainan untuk kecerdasan musik :

(Bermain Piano) (bermain
gitar)
e.
Potensi Kecerdasan Musik
Anak yang memiliki bakat kecerdasan
musik tersebut, orang tua bisa mengarahkan anaknya untuk menjadi seorang pianis
handal, komposser musik, gitaris handal, dan lain sebagainya potensi yang
berhubungan dengan musik.

(calon Musikal handal)
6.
Kecerdasan Interpersonal (Cerdas Bergaul)
a.
Pengertian Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka
terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi
dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di
sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan
sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman,
juga mencangkup kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani
perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan
sebagainya. Kecerdasan ini merupakan
kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensi, serta
mengekspresikan dirinya[12].
b.
Meningkatkan Kecerdasan Intrapersonal
Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini akan mengetahui kekuatan dan
kelemahannya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Anak
harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan
kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal
(people smart/cerdas sosial). Untuk itu kepedulian orangtua dan
lingkungan sekitarnya terhadap kecerdasan personal, mutlak diperlukan. Berbeda
dengan tipe lainnya, perwujudan tipe kecerdasan ini membutuhkan perpaduan
dengan tipe kecerdasan lainnya. Misalnya perpaduan dengan kecerdasan bahasa
akan melahirkan karya sastra yang berisi pemikiran atau filosofi menakjubkan.
Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut self smart.
Ketahuilah konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang
dirinya sercara positif, baik itu mengenai mood, temperamen, motivasi,
maupun intensinya dalam suatu lingkungan. Tidak cukup sampai di situ, anak juga
harus dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya, kebutuhannya,
kekecewaannya, kejengkelannya, atau apa pun yang berkecamuk dalam dirinya.
Sehingga dia bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungannya.
Penerimaan ini akan membuat dirinya menjadi lebih nyaman. Menjadi ciri khas seorang yang punya kecerdasan ini
dia akan merasa nyaman saat berinteraksi dengan perbedaan yang timbul, dipahami
sebagai kesempurnaan interaksi[13].
c.
Jenis Permainan
Dalam mengoptimalkan kecerdasan ini
kita dapat memberikan permainan-permainan yang bisa memunculkan berbagai
perasaan. Misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa, bahagia
dan lain-lain. Sebelumnya anda harus menunjukkan dulu berbagai perasan emosi
tersebut, jelaskanlah situasi-situasi yang menimbulkannya, lalu anak akan
memainkan peran sedang sedih, kesal, dan lain-lain.
Kecerdasan ini bisa dilakukan dengan
permainan tradisional yang penuh dengan kebersamaan dan keceriaan, seperti
permainan berikut:

(permainan
slekdur) (permainan
jamuran)
d.
Potensi Kecerdasan Interpersonal
Keahlian yang berhubungan dengan
kecerdasan Interpersonal bisa
menjadikan anak menjadi pemimpin, pekerja sosial, manager, dan kepala sekolah.
Berikut ilustrasi gambar potensi masa depan untuk kecerdasan Interpersonal :

(calon pemimpin)
7.
Kecerdasan
Intrapersonal (Cerdas Diri)
a.
Pengertian
Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan ini merupakan kemampuan seseorang untuk
mengenali dan mengembangkan potensi, serta mengekspresikan dirinya. Seorang
anak yang memiliki kecerdasan ini akan mengetahui kekuatan dan kelemahannya,
suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Anak harus
belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan
kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan
interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu kepedulian
orangtua dan lingkungan sekitarnya terhadap kecerdasan personal, mutlak
diperlukan.
b.
Meningkatkan
Kecerdasan Intrapersonal
Berbeda dengan tipe lainnya, perwujudan tipe
kecerdasan ini membutuhkan perpaduan dengan tipe kecerdasan lainnya. Misalnya
perpaduan dengan kecerdasan bahasa akan melahirkan karya sastra yang berisi
pemikiran atau filosofi menakjubkan. Anak yang menonjol dalam hal ini sering
disebut self smart. konsep diri seorang anak berasal
dari pengetahuan yang baik tentang dirinya sercara positif, baik itu mengenai mood,
temperamen, motivasi, maupun intensinya dalam suatu lingkungan.
Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan
seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu
untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya
sendri. Peserta didik semacam ini senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi
kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri.
Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung,
dan berdialog dengan dirinya sendiri.
c.
Jenis Permainan
Permainan yang dapat merangsang perkembangan kecerdasan interpersonal
yaitu, misalnya bermain pura-pura, bermain telepon, dll. Dorong anak untuk
melakukan aktifitas belajar kelompok.

(bermain peran)
8. Kecerdasan Naturalis (Cerdas Alam)
Kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap
lingkungan alam, misalnya senang berada dilingkungan alam yang terbuka, seperti
pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti
ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan,
jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa,
dan sebagainya[14].
Anak dengan kecerdasan ini berpotensi untuk menjadi ahli/peneliti alam, seperti
ahli biologi, ahli botani, antropolog, astronaut, atau petani. Anak yang
menonjol dalam hal ini sering disebut nature smart.
Cara yang bisa dipakai untuk mengembangkan kecerdasan ini di sekolah antara
lain:
a. Mengajak
anak untuk menanam dan merawat sendiri tanaman mereka di sekolah, dalam pot
atau di kebun sekolah.
b. Di beberapa
sekolah ada yang menyediakan hewan piaraan, seperti ayam, atau kambing. Ajak
anak didik untuk memberi makan dan memperhatikan pertumbuhan hewan tersebut.
c. Sekali-kali
anak didik diajak ke kebun binatang atau pertanian, museum, planetarium, dan
wahana rekreasi edukatif lainnya.


(belajar menanam
tanaman)
9. Kecerdasan Eksistensialis (Cerdas Spiritual)
Pada dasarnya sejak lahir
manusia memiliki naluri ketuhanan, yaitu naluri adanya kekuasaan transendential
di luar dirinya yang diyakininya bisa memberi kekuatan, ketenangan, semangat,
bahkan rezeki dan hukuman. Kenalkan Tuhan pada anak-anak sedini mungkin agar
dia memiliki kekayaan sense of moral yang penting untuk menjaga
kesehatan mental sepanjang hidupnya. Selain kecerdasan akademis (IQ),
kecerdasan transendental (SQ) juga mutlak diperlukan dalam tumbuh-kembang
seorang anak[15].
Pendidikan SQ dapat menumbuhsuburkan self awareness dalam diri anak. Mendekatkan
anak pada Tuhan bisa dimulai dengan cara antara lain:
a.
Mengajarkan doa-doa pendek/doa
sehari-hari, seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah
tidur, doa sebelum dan sesudah belajar, doa keluar-masuk kamar mandi, dan doa
untuk orangtua.

b.
Mengajarkan surah-surah pendek dalam
Juz ‘Amma. Dewasa ini sudah tidak aneh lagi jika anak usia 5 tahun sudah hafal
lebih dari 3 juz Al-Quran.

c.
Mengajarkan tata cara ibadah
sehari-hari (wudhu, shalat dan sebagainya).

d.
Mengajarkan adab sopan santun
terhadap orang yang lebih tua, sebaya, atau yang lebih muda.

BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Multiple intelegences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang
ilmu kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk”
muncul menjadi gaya belajar. Gardner yang juga ahli saraf di Universitas
Hervard membuat klasifikasi kecerdasan, berdasarkan fakta empiris. Pada
tahun1999, beliau menghasilkan karya intelektual berjudul Intelligence
Reframed yang menyatakan bahwa otak manusia menyimpan sembilan jenis
kecerdasan yang disepakati, sedangkan yang selebihnya masih misteri. Yaitu
terdiri dari, kecerdasan linguistik,
logis-matematis,spasial,kinestetis, musik, interpersonal,intrapersonal,
naturalis, eksitensialis. Dalam memberikan rangsangan otak anak kita bisa
melakukannya dengan cara permainan yang bisa mengasah kecerdasan anak yang
sesuai dengan klasifikasi bakat kecerdasannya. Dan dalam kecerdasan tersebut
anak bisa diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecerdasannya dengan
sesuai kemampuan kecerdasan anak tersebut.
B.
Saran
Kami selaku penulis, menghimbau kepada pembaca agar agar dapat
memberi masukan kepada karya tulis yang kami buat supaya kedepannya karya tulis
kami menjadi lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Chatib,
Munif dan Said, Alamsyah. 2012. Sekolah Anak-Anak Juara. Bandung: PT
Mizan Pustaka.
Hamzah
B, Uno. 2009. Mengelola Kecerdasan
dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Mar’at,
Samsunuwiyati. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung :PT Remaja
Rosdakarya.
Santrock,
John W. 2011. Masa Perkembangan Anak Children. Jakarta : Salemba
Humanika.
Surya,
Sutan. 2007. Melejitkan Multiple Intelligence
Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Andi Offset.
[1] John W Santrock. Masa Perkembangan Anak
Children. (Jakarta : Salemba Humanika. 2011). Halm. 202.
[2]
Munif Chatib. Sekolah Anak-anak
Juara. ( Bandung : Kaifa PT Mizan Pustaka. 2012). Halm. 75.
[3]
Munif Chatib. Ibid. Halm.79.
[4]
Munif Chatib. Ibid. Halm. 81.
[5]
John W Santrok. Oop Cit. Halm. 205.
[6]
Munif Chatib. Ibid. Halm.85.
[7]
John W Santrock. Op Cit. Halm.205.
[8]Munif
Chatib. Ibid. Halm. 91.
[9] Sutan Surya. Melejitkan Multiple
Intelligence Anak Sejak Dini. (Yogyakarta: Andi
Offset. 2007). Halm 45.
[10]
Munif Chatib. Ibid. Halm. 90.
[11]
Sutan Surya. Op Cit. Halm.50.
[12]
Sutan Surya. Ibid. Halm. 47.
[13]
Munif Chatib. Ibid. Halm.92
[14] Uno
Hamzah B. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran.( Jakarta: Bumi
Aksara. 2009).halm.67.
[15] Uno
Hmazah B. Ibid. Halm. 77.