Senin, 02 Mei 2016

MAKALAH MENINGKATKAN MULTIPLE INTELLEGENSI ANAK DENGAN BERMAIN



MAKALAH MENINGKATKAN MULTIPLE INTELLEGENSI ANAK DENGAN BERMAIN

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Pendidikan bagi Anak Usia Dini memang pendidikan yang paling dasar bagi anak. Pada tahap ini orang tua harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi anaknya. Baik dalam memilih lembaga pendidikan bagi sang anak atau pun memilih untuk mendidik sendiri sang anak dirumah. Dalam pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Karena kecerdasan anatara satu anak dengan yang lain berbeda. Orang tua maupun pendidik anak usia dini harus mengenali kecerdasan yang dimiliki anak agar dapat mengarahkan dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki anak secara maksimal. Dan dalam untuk meningkatkan kecerdasan otak Anak, orangtua dan lingkungan sangat berperan penting untuk meningkat kecerdasan Multiple Intellegence Anak. Untuk itu orang tua, guru harus bisa memberikan stimulasi atau rangsangan terhadap kecerdasan otak anak dalam meningkatkan bakat anak yanng terpendam maupun yang terlihat. Orang tua maupun guru juga harus mengetahui gaya belajar Anak untuk bisa meningkatkan kecerdasan otak anak.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan multiple intellegence?
2.    Apa saja ragam kecerdasaan menurut pemikiran Gardner ?
3.    Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan anak dalam memberikan rangsangan otak pada anak ?
4.    Bagaimana cara untuk meningkatankan multiple intellegence dengan bermain ?
5.    Apa keahlian dari ragam multiple intellegence masa depan anak mendatang ?


C.    Tujuan
1.    Dapat memahami pengertian multiple intellegence.
2.    Dapat mengetahui berbagai ragam kecerdasan menurut pemikiran Gardner.
3.    Bisa mengetahui untuk mencerdaskan  anak dalam memberikan rangsangan otak pada anak.
4.    Dapat mengetahui cara meningkatkan multiple intellegence dengan bermain.
5.    Dapat mengetahui keahlian dari multiple intellegence masa depan anak mendatang.


BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Multiple Intelegences
Beberapa ahli mendeskripsikan intelegensi sebagai keahlian dalam memecahkan masalah. Ahli yang lain mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman sehari-hari. Dari gabungan gagasan-gagasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa intelegensi (intellegence) adalah keahlian dalam memecahkan masalah serta kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman sehari-hari[1].
Robert J. Sternberg, mengembangkan teori triarkik (tiarchic theory of intelegence) yang menyatakan bahwa intelegensi bahwa terdiri atas tiga bentuk, diantarannya:
1.   Intelegensi analitis, berhubungan dengan kemampuan menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan, dan membedakan.
2.   Intelegensi Kreatif, terdiri atas keahlian untuk mencipatakan, merancang, menemukan, memulai, dan membayangkan.
3.   Intelegensi Praktis, mencakup kemampuan untuk menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan, dan mempraktikan gagasan.
Sedangkan Multiple intelegences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang ilmu kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk” muncul menjadi gaya belajar. Gaya belajar adalah respons yang paling peka dalam otak seseorang untuk menerima data atau informasi dari pemberi informasi dan lingkungannya. Informasi akan lebih cepat diterima oleh otak apabila sesuai dengan gaya belajar penerima informasi. Jika informasi tentang materi belajar sudah diterima oleh otak, dapat dikatakan bahwa indikator hasil belajarnya sudah tuntas[2].



B.       Pemikiran Gardner
Frame of Mind  yang ditulis oleh Gardner pada tahun 1983 menyampaikan ragam kecerdasan yang juga dipengaruhi oleh budaya teempat kita dilahirkan sehingga kecerdasan tidak lagi ditafsirkan sebagai tunggal dalam wacana kognitif. Menurut Gardner : salah besar apabila kita mengomsumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas aturan besaran tunggal tetap, yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas. Kecerdasan yang dicetusakan Howard Gardner memperkuat perspektifnya tentang kecerdasan kognitif manusia. Kecerdasan memiliki spektrum yang sangat luas, bahkan menembus dimensi emonsionalitas dan spriritualisme, yang di dalamnya bersemayam kemampuan imajinasi, kreativitas, dan problem solving.
 Kecerdasan dalam definisi Gardner adalah sebuah kebudayaan yang tercipta dan proses pembelajaran, perilaku, pola kehidupan antar manusia, dan alam atau lingkungan yang terkristalisasi dalam kebiasaan. Dengan demikian, kecerdasan adalah sebuah perilaku yang diulang-ulang[3]. Otak manusia kompleks dan misterius, yang di dalamnya tersimpan kepribadian dan kecerdasan. Kecerdasan adalah anugrah Tuhan Sang Pencipta. Melalui kajian ilmiah psikologi, Gardner yang juga ahli saraf di Universitas Hervard membuat klasifikasi kecerdasan, berdasarkan fakta empiris. Pada tahun 1999, beliau menghasilkan karya intelektual berjudul Intelligence Reframed yang menyatakan bahwa otak manusia menyimpan sembilan jenis kecerdasan yang disepakati, sedangkan yang selebihnya masih misteri. Yaitu terdiri dari, kecerdasan linguistik, logis-matematis,spasial,kinestetis, musik, interpersonal,intrapersonal, naturalis, eksitensialis.
Setiap kecerdasan punya perkembangannya sendiri, tumbuh dan menjelma dalam kurun waktu berbeda untuk setiap individu. Dinamika teori multiple intellegence Gardner bersifat jamak : bermakna banyak dan luas, menandakan kecerdasan pada hakikatnya tidak terbatas. Hanya karena keterbatasan manusialah yang membuatnya terbatas menjadi tujuh, lalu berkembang lagi menjadi sembilan kecerdasan. Suatu waktu, jenis kecerdasan lain akan bertambah.

C.       Macam-macam Kecerdasan Menurut Gardner
Berikut dibawah ini akan menguraikan sembilan jenis kecerdasan berdasarkan pemikiran Gardner beserta potensi yang akan anak kuasai dimasa mendatang :
1.   Kecerdasan Linguistik (Cerdas Bahasa)
a.      Pengertian Cerdas Bahasa
Definisi bahasa menurut Jan van de Putten adalah sebagai alat lomunikasi yang terdiri dari kata-kata dan diatur oleh suatu perangkat dan konvensi, serta diidentifikasikan oleh suatu kelompok pengguna disuatu wilayah geografis yang merujuk kepada penggunanya sendiri. Dengan demikian, pada dasarnnya bahasa atau ilmu bahasa (linguistik) secara kebudayaan mewakili entitas sosial kemasyarakatan[4].
Kecerdasan ini dapat menunjukkan kecerdasan logika berpikir seorang anak. Jika dia bisa berbahasa/berbicara dengan bagus dan lancar niscaya logika berpikirnya akan bagus. Anak-anak cenderung lebih sering menggunakan kata-kata yang ‘acak-acakan’.
b.      Meningkatkan Kecerdasan Linguistik
Berikut ini beberapa metode untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal, diantaranya:
tips-mengajarkan-bahasa-asing-kepada-anak-300x199.jpg     manfaat-berdongeng.png
(Mengajak anak bercakap-cakap)            (Membacakan Cerita Dongeng)
Pandai berbahasa bukan hanya berarti menguasai banyak bahasa, melainkan si anak mempunyai kemampuan dalam mengolah bahasa. Hal ini penting untuk mengajarkan bahasa ibu terlebih dahulu karena hal itu akan mendorong logika berpikir si anak. Tidak semua anak cerdas dalam berbahasa. Seandainya si anak belum siap menerima multibahasa. Jangan memberikannya. Bila guru dan orangtua menjejalkan anak dengan beragam bahasa, hasilnya anak akan mengalami kebingungan bahasa.
c.           Permainan untuk Meningkatkan Cerdas Bahasa
Stimulus dari lingkungannya akan mempengaruhi kemampuan otak si anak dan pada akhirnya akan bermuara pada keterampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara. Biasanya, kurangnya kemampuan berbahasa pada anak terjadi apabila sejak kecil anak jarang diajak berkomunikasi. Dalam meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak, orang tua bisa memasukkannya kedalam aktivitas drama yang kerap digelar oleh sanggar kesenian anak.
blog 2.jpg
(bermain akting drama)
Dalam kegiatan drama tersebut anak dapat mengembangkan bakat bahasanya dengan baik, yaitu memerankan seseorang yang akan diperankannya dalam bermain drama tersebut.


d.      Potensi Yang Dapat Dikembangkan
Keahlian atau potensi anak yang dimiliki untuk kecerdasan bahasa bisa dikembangkan hingga dewasa nanti, sebagai berikut :
1)   Penulis,
2)   Jurnal,
3)   Pengacara, dan
4)   Artis
5)   Dll.
Dalam potensi tersebut diharapkan orang tua untuk memperhatikan dan mengembangkan bakat anaknya sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan anak yang dimilikinya.
2.   Kecerdasan Logis-Matematis (Cerdas Angka)
a.      Pegertian Cerdas Angka
Biasanya logika matematika dikatikan dengan otak yang melibatkan beberapa komponen, yakni perhitungan secara matematis, berpikir logis, dan pemecahan masalah. Anak dengan kemampuan ini akan senang berkutat dengan rumus-rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analisis dan konseptual. Ada kaitan antara logika matematika dan kecerdasan linguistik, anak menganalisis dan menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Menurut Gardner, ciri anak yang cerdas matematika adalah anak  yang suka mengotak-atik benda dan melakukan uji coba.
b.      Kegiatan untuk Merangsang
Dalam hal ini kita dituntut untuk kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika sehingga anak menjadi fun dalam mempelajarinya dan tidak menganggap matematika sebagai sesuatu yang menakutkan. Dalam meningkatkan kecerdasan ini, ciptakan lingkungan matematika. Tidak harus selalu berkutat dengan rumus-rumus serius, tapi bisa diselipkan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dengan menanyakan kepada anak, lebih besar tempat bekal si A atau si B? Atau lebih berat mana tas si A atau si B? Dengan begitu secara tidak langsung kita telah mengajarkan kepada anak tentang konsep panjang dalam meter atau berat dalam gram. Beberapa cara membantu anak mengembangkan kecerdasan matematika:
1)        Perbanyak koleksi buku-buku referensi mengenai konsep matematika.
2)        Buat permainan seru dengan melibatkan murid-murid dalam lomba-lomba, seperti berhitung dan permainan asyik lainnya.
3)        Manfaatkan berbagai benda yang ada di sekitar kita sebagai media pengajaran.
 Sedangkan untuk anak usia dini atau TK orang tua dapat mengajarkan anak untuk belajar menghitung, dan mengajarkan bangun ruang atau datar dan lingkaran, mintalah anak untuk mengamati pola dari beberapa bendera negara dari buku-buku, bentuk atap rumah dan sebagainya.
c.       Jenis Permainan untuk Cerdas Matematic
Beberapa jenis cara membantu anak mengembangkan kecerdasan dalam bermain. Berikut contoh permainannya :
mid.jpg  Tanga-Angka-Kubus.jpg
(Ular Tangga)                                     (Pemainan Edukatif-Balok)
Kemampuan ini bisa diasah lewat permainan yang menggunakan angka-angka, misalnya bermain. Untuk merangsang serta mengoptimalkan kecerdasan logis-matematis, anda harus mengondisikan otak anak agar siap menerima materi dengan situasi dan cara pembelajaran yang menyenangkan.
d.      Potensi Yang Dapat Dikembangkan
Keahlian ini bisa dikembangkan hingga dewasa yaitu bisa menjadi ilmuan, insyiyur, akuntan[5].  Kecerdasan logis-matematis melibatkan banyak komponen: perhitungan secara matematis, berfikir logis, nalar, pemecahan masalah,  pertimbnagan deduktif, dan ketajaman hubungan antara pola-pola numerik. Kecerdasan logis-matematis menurut Gardner bukanlah kebutuhahan yang superior dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lain. Kecerdasan pada dasarnnya sama dan tidak saling mengalahkan atas yang lainnya. Setiap kecerdasan mempunyai mekanisme sendiri serta setiap kecerdasan mempunyai prinsip inti tersendiri[6].

3.   Kecerdasan Spasial-Visual (Cerdas Ruang dan Gambar)
a.      Pengertian Cerdas Spasial-Visual
Kecerdasan spasial umumnya dimiliki para pelukis, pemahat, arsitek, dan pilot. Anak dengan kecerdasan spasial-visual adalah pengamat dunia. Mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh. Anak dengan tipe kecerdasan seperti ini biasanya menyukai pelajaran yang dikemas dalam metode diagram, grafik, tabel, dan mind mapping.
Lalu cara untuk mengembangkan kecerdasan spasial-visual anak bisa dilakukan dengan :
1)   Bermain puzzle dan balok
2)   Belajar bentuk
3)   Belajar mengamati
354483_7530de99-2c59-4706-956f-621cad9fbf98.jpg     artikel_1434955188.jpg
Selain itu, untuk merangsang kecerdasan spasial anak, kita juga bisa mencoba dan  merancang permainan berburu harta karun dengan menggunakan peta sederhana. Anak dengan kecerdasan spasial, biasanya lebih mudah memahami peta. Sekarang ini banyak permainan ‘mencari jalan’ yang adala dalam majalah-majalah untuk anak TK disertai dengan cerita dan gambar yang menarik.
b.   Potensi Kecerdasan Spasial-Visual
Keahlian yang berhubungan dengan operasi matematis bisa menjadikan anak menjadi arsitek, pilot, fotografi dan lain sebagainya[7]. Dalam kecerdasan Spasial-Visual, mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh.

4.    Kecerdasan Kinestetik (Cerdas Olah Tubuh-Jasmani)
a.        Pengertian Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan gerak merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide dan perasaan dalam gerakan tubuh. Kecerdasan ini dimiliki orang-orang yang menggunakan koordinasi tubuhnya dan mampu mengontrol gerakan-gerakannya itu, seperti para atlet dan penari. Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut body smart. Umumnya, anak cerdas gerak memiliki kematangan motorik, baik motorik kasar, seperti berlari, menangkap, melempar, dan memanjat tebing, maupun motorik halus, seperti menulis, menggunting, dan menempel. Kedua tipe gerakan ini membutuhkan koordinasi visual-motorik, ketepatan, keseimbangan, dan kelenturan.
b.        Kegiatan Merangsang Kecerdasan Kinestetik
Menurut Gardner, seseorang yang punya kemampuan menggunakan seluruh tubuh mereka atau paling tidak hanya sebagian dari tubuh, seperti tangan untuk memecahkan masalah merupakan pengembangan dari kecerdasan kinestetik[8]. Ada tiga pusat kemampuan kognitif dalam kecerdasan kinestetik/gerak yang merupakan komponen penting dari gerak tubuh, yakni:
1)    Logika motorik  merupakan kemampuan saraf otot untuk bergerak
2)   Memori kinestetik  merupakan kemampuan anak mengatur batas dari gerakan melalui konstruksi otot, gerakan dan posisi dalam ruang
3)    Kesadaran kinestetik merupakan kemampuan indra gerak anak untuk mengikuti perintah dan petunjuk.
Pendidik dapat membantu orangtua menemukan dan mengembangkan kecerdasan gerak anak sejak dini. Kecerdasan ini dapat diamati saat anak mulai melakukan gerak bertujuan, misalnya berjalan, melompat, memanjat, atau berlari. Bila anak terlihat mampu melakukan gerakan dengan sangat terampil dibandingkan dengan anak seusianya, berarti ada kemungkinan dia memiliki kelebihan dalam kecerdasan gerak. Melalui aktivitas olahraga atau seni, seperti menyanyi atau menari, anak dapat teramati kemampuan geraknya[9].
Kecerdasan gerak tidak sekedar melibatkan gerakan saja, tapi juga melibatkan kemampuan berpikir. Misalnya, meniru gerakan tarian atau menendang bola ke arah gawang. Pada usia 3 tahun, biasanya anak mulai menunjukkan ciri-ciri keunggulan dalam kecerdasan kinestetik. Kesiapan motoriknya sudah berkembang mendekati sempurna. Sejalan dengan kesiapan fisiknya, anak juga mulai berkembang dalam kemampuan berpikirnya. Anak mulai mampu meniru dan menghafal gerakan sehingga ketika si anak diminta mengulang kembali gerakan tertentu, dia mampu melakukannya dengan baik.
c.         Jenis Permainan
Beberapa permainan yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi anak yang tergolong cerdas gerak, antara lain:
1)        Menyediakan ruang yang cukup luas agar anak bisa menyentuh apapun yang mereka lihat. Ajak anak ke tempat-tempat yang memicu eksplorasinya dalam menyentuh.
2)        Memberikan anak ruang yang cukup untuk bergerak sehingga anak cerdas gerak berlajar berinteraksi dengan ruang di sekitarnya.
3)         Minta anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang berorientasi pada gerakan, seperti pementasan drama dan menari dalam kegiatan sekolah, senam, balet, dan olahraga. Beberapa aktivitas menawarkan anak belajar melalui interaksi spasial dan gerakan tubuh yang bermanfaat untuk membangun kepercayaan dirinya.
4)        Melakukan beberapa kegiatan yang menunjang kemampuan gerak motorik anak, seperti memasukkan manik-manik ke benang, menggunting kertas, dan kegiatan kerajinan tangan lainnya.
5)        Bermain petak umpet, kucing-kucingan, lompat tali, dan sebagainya.
Berikut ilustrasi gambar yang bisa untuk meningkatkan motorik kasar pada Anak :
        31589_476834405688812_917291128_n.jpgpetak-umpet.jpg
(berlari-larian)                                        (bermain petak umpet)    
  CIMG3275_640x480.jpg  permainan-lompat-tali.jpg
                 (sepak bola)                                                (lompat tali)
d.             Potensi Masa Depan
Banyak orangtua yang kemudian mengarahkan anaknya untuk mengikut les-les yang bisa mengembangkan kecerdasan gerak anaknya, seperti les menari, renang dan sebagainya. Keahlian yang berhubungan dengan kecerdasan kinestetik bisa menjadikan anak menjadi perajin, penari, atlet, dan petualang[10].

5.    Kecerdasan Music (Cerdas Musik)
a.    Pengertian
Kecerdasan bermusik mencakup kepekaan atau penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik sehingga seseorang mampu menyanyikan lagu, memainkan musik, dan menikmati musik. Imitasi dan eksplorasi terhadap berbagai bunyi, gambar, dan gerakan, selayaknya menjadi bagian dari pengalaman anak sehari-hari. Musik tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kognitif, tapi juga mampu mengembangkan kecakapan sikap, tingkah laku, dan disiplin anak. Melalui musik, rasa percaya diri anak meningkat, yang kemudian menular ke bidang lainnya, seperti matematika, geografi, ekonomi dan sebagainya[11].
b.   Mengembangkan Kecerdasan musik
Kenali bakat musik anak didik anda lewat alat-alat musik yang mereka mainkan dan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Pengenalan musik terhadap anak di sekolah bisa dilakukan dengan cara membuat permainan-permainan menciptakan musik, misalnya dengan alat-alat makan (piring, sendok, atau gelas). Hal ini dapat membantunya mempelajari irama, lemah-kuatnya nada, dan tinggi-rendahnya bunyi.
c.         Kegiatan Kecerdasan Musik
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah untuk menggali kecerdasan musik anak didi antara lain:
1)        Kenalkan anak lewat berbagai jenis alat musik meskipun hanya lewat gambar.
2)        Menyediakan alat-alat musik sederhana, misalnya gitar, drum, piano, tamborin mainan (dari plastik) dan sebagainya.
3)        Mengajarkan not balok lewat lagu-lagu sederhana.
4)        Untuk melatih kepekaan nada, anak juga dapat diperdengarkan lagu-lagu dengan irama yang berbeda saat dia makan, menggambar, bermain, dan dalam melakukan aktivitas lainnya.
5)        Anak-anak cenderung menyukai lagu yang bernada riang. Bernyanyi bisa dikombinasikan dengan kegiatan bermain lainnya, seperti permainan kursi putar.
6)        Ajaklah anak untuk menampilkan kebolehan mereka dalam acara-acara sekolah.
d.        Permainan Kecerdasan Musik
Dalam mengembangkan kecerdasan tersebut dorang tua dapat mengembangkannya dengan melakukan jenis permainan dengan bermain alat musik sebagai cara merangsang kecerdasan musik tersebut. Jadi untuk kecerdasan ini orangtua bisa mengenalkan anak dengan berbagai macam jenis alat musik dan nyanyian yang sesuai dengan seumurannya.
  
Berikut beberapa jenis permainan untuk kecerdasan musik :

anak main piano.jpg index.jpg
(Bermain Piano)                                              (bermain gitar)
e.         Potensi Kecerdasan Musik
Anak yang memiliki bakat kecerdasan musik tersebut, orang tua bisa mengarahkan anaknya untuk menjadi seorang pianis handal, komposser musik, gitaris handal, dan lain sebagainya potensi yang berhubungan dengan musik.
    https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS5pV1K2AGEa4ryym9N9YvPy1PVLnuS3b5nGsH9URps7CeuKU3YfQ https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrcoctqkvIc1dFkNcupKBgalqJ4vayJac-g_iN7VhUwNHtlmtx0C0J2CiVU22CV4wpWf0unx-QO973m23jUp0XyXBIHT_v_g5sTV0YRwcp7wMo1A2V4qlqyLmMRqF42Qu13EndkSPLHZNn/s1600/alat-musik.jpg
(calon Musikal handal)
  
6.    Kecerdasan Interpersonal (Cerdas Bergaul)
a.    Pengertian Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencangkup kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya.  Kecerdasan ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensi, serta mengekspresikan dirinya[12].
b.   Meningkatkan Kecerdasan Intrapersonal
Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini akan mengetahui kekuatan dan kelemahannya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Anak harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu kepedulian orangtua dan lingkungan sekitarnya terhadap kecerdasan personal, mutlak diperlukan. Berbeda dengan tipe lainnya, perwujudan tipe kecerdasan ini membutuhkan perpaduan dengan tipe kecerdasan lainnya. Misalnya perpaduan dengan kecerdasan bahasa akan melahirkan karya sastra yang berisi pemikiran atau filosofi menakjubkan. Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut self smart.
Ketahuilah konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang dirinya sercara positif, baik itu mengenai mood, temperamen, motivasi, maupun intensinya dalam suatu lingkungan. Tidak cukup sampai di situ, anak juga harus dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya, kebutuhannya, kekecewaannya, kejengkelannya, atau apa pun yang berkecamuk dalam dirinya. Sehingga dia bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungannya. Penerimaan ini akan membuat dirinya menjadi lebih nyaman. Menjadi  ciri khas seorang yang punya kecerdasan ini dia akan merasa nyaman saat berinteraksi dengan perbedaan yang timbul, dipahami sebagai kesempurnaan interaksi[13].
c.     Jenis Permainan
 Dalam mengoptimalkan kecerdasan ini kita dapat memberikan permainan-permainan yang bisa memunculkan berbagai perasaan. Misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa, bahagia dan lain-lain. Sebelumnya anda harus menunjukkan dulu berbagai perasan emosi tersebut, jelaskanlah situasi-situasi yang menimbulkannya, lalu anak akan memainkan peran sedang sedih, kesal, dan lain-lain.
Kecerdasan ini bisa dilakukan dengan permainan tradisional yang penuh dengan kebersamaan dan keceriaan, seperti permainan berikut:
Anak-dan-Permainan-Tradisional.jpg jamuran2.jpg
(permainan slekdur)                            (permainan jamuran)
d.   Potensi Kecerdasan Interpersonal
Keahlian yang berhubungan dengan kecerdasan Interpersonal  bisa menjadikan anak menjadi pemimpin, pekerja sosial, manager, dan kepala sekolah. Berikut ilustrasi gambar potensi masa depan untuk kecerdasan Interpersonal :
    http://www.kesekolah.com/images2/big/2013062516244084947.jpg http://www.kesekolah.com/images2/big/2014042317185626040.jpg
(calon pemimpin)
7.    Kecerdasan Intrapersonal (Cerdas Diri)
a.        Pengertian Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensi, serta mengekspresikan dirinya. Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini akan mengetahui kekuatan dan kelemahannya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Anak harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu kepedulian orangtua dan lingkungan sekitarnya terhadap kecerdasan personal, mutlak diperlukan.
b.   Meningkatkan Kecerdasan Intrapersonal
Berbeda dengan tipe lainnya, perwujudan tipe kecerdasan ini membutuhkan perpaduan dengan tipe kecerdasan lainnya. Misalnya perpaduan dengan kecerdasan bahasa akan melahirkan karya sastra yang berisi pemikiran atau filosofi menakjubkan. Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut self smart. konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang dirinya sercara positif, baik itu mengenai mood, temperamen, motivasi, maupun intensinya dalam suatu lingkungan.
Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendri. Peserta didik semacam ini senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri.
c.     Jenis Permainan
Permainan yang dapat merangsang perkembangan kecerdasan interpersonal yaitu, misalnya bermain pura-pura, bermain telepon, dll. Dorong anak untuk melakukan aktifitas belajar kelompok.
   12353191_1485408981767682_9031546_n.jpg       1328147839.jpg
(bermain peran)
8.    Kecerdasan Naturalis (Cerdas Alam)
Kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada dilingkungan alam yang terbuka, seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya[14]. Anak dengan kecerdasan ini berpotensi untuk menjadi ahli/peneliti alam, seperti ahli biologi, ahli botani, antropolog, astronaut, atau petani. Anak yang menonjol dalam hal ini sering disebut nature smart.
Cara yang bisa dipakai untuk mengembangkan kecerdasan ini di sekolah antara lain:
a.    Mengajak anak untuk menanam dan merawat sendiri tanaman mereka di sekolah, dalam pot atau di kebun sekolah.
b.    Di beberapa sekolah ada yang menyediakan hewan piaraan, seperti ayam, atau kambing. Ajak anak didik untuk memberi makan dan memperhatikan pertumbuhan hewan tersebut.
c.    Sekali-kali anak didik diajak ke kebun binatang atau pertanian, museum, planetarium, dan wahana rekreasi edukatif lainnya.
2015-06-11-10-36-43_Dunia Sekolah- foto ST Aurelia (2)_thumb_800_1.jpgMenanam-Kacang-Featured-800x347.jpg
                               (belajar menanam tanaman)
                   http://google.com/menanam-bersama-anak-tk//

9.    Kecerdasan Eksistensialis (Cerdas Spiritual)
            Pada dasarnya sejak lahir manusia memiliki naluri ketuhanan, yaitu naluri adanya kekuasaan transendential di luar dirinya yang diyakininya bisa memberi kekuatan, ketenangan, semangat, bahkan rezeki dan hukuman. Kenalkan Tuhan pada anak-anak sedini mungkin agar dia memiliki kekayaan sense of moral yang penting untuk menjaga kesehatan mental sepanjang hidupnya. Selain kecerdasan akademis (IQ), kecerdasan transendental (SQ) juga mutlak diperlukan dalam tumbuh-kembang seorang anak[15]. Pendidikan SQ dapat menumbuhsuburkan self awareness dalam diri anak. Mendekatkan anak pada Tuhan bisa dimulai dengan cara antara lain:
a.    Mengajarkan doa-doa pendek/doa sehari-hari, seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah tidur, doa sebelum dan sesudah belajar, doa keluar-masuk kamar mandi, dan doa untuk orangtua.
anak-doa-sebelum-makan-ok.jpg   Pray_To_Allah_II_by_dietfotography.jpg

b.    Mengajarkan surah-surah pendek dalam Juz ‘Amma. Dewasa ini sudah tidak aneh lagi jika anak usia 5 tahun sudah hafal lebih dari 3 juz Al-Quran.
ayah-ajar-anak.jpg   anak-anak-mengaji.jpg

c.    Mengajarkan tata cara ibadah sehari-hari (wudhu, shalat dan sebagainya).
solat.png    ajari-puasa.jpg

d.   Mengajarkan adab sopan santun terhadap orang yang lebih tua, sebaya, atau yang lebih muda.

anak-salaman_20151209_092655.jpg     index.jpg

BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Multiple intelegences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang ilmu kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk” muncul menjadi gaya belajar. Gardner yang juga ahli saraf di Universitas Hervard membuat klasifikasi kecerdasan, berdasarkan fakta empiris. Pada tahun1999, beliau menghasilkan karya intelektual berjudul Intelligence Reframed yang menyatakan bahwa otak manusia menyimpan sembilan jenis kecerdasan yang disepakati, sedangkan yang selebihnya masih misteri. Yaitu terdiri dari, kecerdasan linguistik, logis-matematis,spasial,kinestetis, musik, interpersonal,intrapersonal, naturalis, eksitensialis. Dalam memberikan rangsangan otak anak kita bisa melakukannya dengan cara permainan yang bisa mengasah kecerdasan anak yang sesuai dengan klasifikasi bakat kecerdasannya. Dan dalam kecerdasan tersebut anak bisa diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecerdasannya dengan sesuai kemampuan kecerdasan anak tersebut.

B.       Saran
Kami selaku penulis, menghimbau kepada pembaca agar agar dapat memberi masukan kepada karya tulis yang kami buat supaya kedepannya karya tulis kami menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Chatib, Munif dan Said, Alamsyah. 2012. Sekolah Anak-Anak Juara. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Hamzah B, Uno. 2009.  Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Mar’at, Samsunuwiyati. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Santrock, John W. 2011. Masa Perkembangan Anak Children. Jakarta : Salemba Humanika.
Surya, Sutan. 2007. Melejitkan Multiple Intelligence Anak Sejak Dini.  Yogyakarta: Andi Offset.


[1]  John W Santrock. Masa Perkembangan Anak Children. (Jakarta : Salemba Humanika. 2011). Halm. 202.
[2] Munif  Chatib. Sekolah Anak-anak Juara. ( Bandung : Kaifa PT Mizan Pustaka. 2012). Halm. 75.
[3] Munif Chatib. Ibid. Halm.79.
[4] Munif Chatib. Ibid. Halm. 81.
[5] John W Santrok. Oop Cit. Halm. 205.
[6] Munif Chatib. Ibid. Halm.85.
[7] John W Santrock. Op Cit. Halm.205.
[8]Munif Chatib. Ibid. Halm. 91.
[9] Sutan Surya. Melejitkan Multiple Intelligence Anak Sejak Dini. (Yogyakarta: Andi Offset. 2007). Halm 45.
[10] Munif Chatib. Ibid. Halm. 90.
[11] Sutan Surya. Op Cit. Halm.50.
[12] Sutan Surya. Ibid. Halm. 47.
[13] Munif Chatib. Ibid. Halm.92
[14] Uno Hamzah B. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran.( Jakarta: Bumi Aksara. 2009).halm.67.
[15] Uno Hmazah B. Ibid. Halm. 77.